Because I Miss You

8 Jan

Because I Miss You

I miss you.

Yesterday, today, tomorrow, and ever.

Qoutes-about-missing-someone-who-died-2

Gadis itu menatap deretan mobil dan motor didepannya lelah. Sudah kesekian kalinya ia terjebak macet jalanan kota Seoul di pagi hari. Apa yang membuat harinya menjadi sesial ini? Memang, sudah biasa untuk kota besar seperti Seoul mengalami kemacetan pada saat traffic jam. Tapi, apakah harus disaat seperti ini? Hari ini adalah hari dimana ia harus mengikuti ujian akhir di kampusnya. Ya. Ia sedang masuk kedalam musim ujian. Apakah ia harus terlambat datang ketika ujian? Tidak. Itu tidak akan terjadi padaku.

Benda persegi panjang hitam itu masih menunjukan warna merah, belum menunjukan tanda-tanda akan berubah menjadi hijau. Ayolah kenapa lama sekali? Gadis itu tidak berani untuk melihat jam tangannya, takut waktu tidak sedang berpihak padanya. Semoga masih sempat.

Sesaat, musik yang terdengar di earphone berganti, melantunkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh idol yang sedang naik daun saat ini. Gadis itu tersenyum—kecut. Oke, tidak ada salahnya kan ia menikmati sejenak lagu—yang sedang ia dengar-daripada memperhatikan kendaraan disekelilingnya?

Like when winter gone and the spring comes

When the time goes I thought it wil be familiar

But that’s failed

My love, clearing you

Kapan terakhir kali Ia menggalau masalah pria? Dia tidak ingat pasti, namun satu hal yang ia yakini. Ia merindukan pria itu. Bukan masalah percintaan klise yang terjadi di masyarakat saat ini, namun ini mengenai perasaannya yang sulit didefinisikan, sulit dijelaskan, sulit di terka—apakah ia masih memiliki perasaan terhadap pria itu? Pria yang telah mengisi hatinya kurang lebih 4 tahun terakhir. Pria yang menjadi salah satu inspirasinya. Pria yang akhir-akhir ini hilang kabar entah kemana. Pria yang menjadi…cinta pertamanya. Gadis itu tersenyum. Cinta pertama? Huh, apa aku benar-benar mengalami hal yang dinamakan ‘cinta pertama’? Ia sudah tidak mengerti lagi dengan isi hatinya. Apakah ia segitu menyukainya?

“Hah, kau dimana sekarang…. Sedang apa kau sekarang… Bagaimana kabarmu…” gadis itu bermonolog.

Tin tin tin

Tanpa terasa, lampu sudah menyala hijau. Untuk saat ini, mari lupakan sejenak mengenai pria itu dan kembali fokus untuk ujian.

 

 

10.00 PM

Suasana gedung berlantai 4 itu ramai. Para murid berhamburan keluar dari ruang ujian. Ekspresi mereka bermacam-macam, ada yang senang—mungkin karena ia bisa mengerjakan soalnya—atau ada yang sedih, kecewa, kesal. Semuanya beragam. Tak terkecuali gadis itu. Ia keluar dan langsung dihampiri oleh teman sebayanya.

“Bagaimana menurutmu soal ujian tadi?”

Gadis itu tersenyum kikuk, “Sudahlah, aku pasrah.”

Teman satunya lagi menghampiri, “Ayo kita makan. Aku lapar.”

Gadis itu menengok ke sumber suara, “Ah Ra Ra, nanti aku mau mampir ke apartemenmu ya. Ada yang harus kulakukan. Biasa, download tugas.”

Gadis yang bernama Park Ra Ra, menyeringai. “Manfaatkan saja wifi ditempatku.” Dan mereka bertiga pun tertawa.

 

 

 

16.00 PM

“Baik, hati-hati dijalan Sohwi!” Ra Ra melambaikan tangannya. Gadis itu—Kang So Hwi—membalas. “Baik, aku pulang dulu.” Dan motornya pun melaju.

Hujan turun cukup deras sore itu mengharuskan So Hwi untuk mengenakan mantel hujannya. Namun tidak menyurutkan niatnya untuk berjalan pulang dikarenakan waktu sudah sangat sore.

Earphone masih ia kenakan dibalik helm hijau bermotif kupu-kupunya. Ketika ia sampai dijalan padat lalulintas, kembali terjadi penumpukan kendaraan. Yah, hujan. Wajar saja disini macet. Dan—lagi—playlistnya berputar. Lagu yang tadi pagi sempat ia dengarkan. So Hwi menghembuskan napas lelah. Ia lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Your warm hug

Why I more miss it today?

Because I just miss you at that time

The love that heart asked

Even after trying hard, the tears still flow

Even I want to meet you but now I can’t

Because I just miss you today too

 

Dulu. Dulu sekali. Ketika pertama kalinya pria itu menghubunginya melewati jejaring sosial yang terkenal jaman itu. Hanya dengan kata-kata sederhananya, “Sekolah dimana sekarang?” Mampu membuat gadis itu menahan nafasnya beberapa detik. Ia tidak menyangka. Orang yang pernah ia sukai—kembali menghubunginya. Padahal, ketika mereka menjadi teman sekelas waktu SMP dulu, mereka tidak pernah bertegur sapa. Tidak pernah saling mengobrol, mengirimi pesan, atau hal lain yang biasanya dilakukan oleh teman dekat. Mereka tidak pernah sedekat itu. Tidak pernah berfikir akan bagaimana mereka kedepannya. Sampai ketika So Hwi pindah sekolah pun, ia sudah melupakan perasaannya untuk pria itu. Tidak pernah ia fikirkan akankah ia kembali menyukai pria itu atau tidak. Yang jelas, seumur hidup seorang Kang So Hwi adalah di situasi sesulit ini—menyukai seorang pria dalam waktu yang cukup lama.

“Apakah aku terlalu mengharapkannya?”

Pertanyaan itu selalu terngiang ditelinganya. Apakah benar ia terlalu berharap? Apakah selama ini…hanya dia yang memiliki perasaan absurd unlogic ini?

Gadis itu menengadah, menatap rintik hujan yang mulai mereda melalui kaca helmnya. Langit kala itu gelap—namun tidak begitu gelap karena ia masih bisa melihat setitik cahaya muncul dari balik awan. Menatap langit adalah kebiasaannya ketika pikirannya sedang rumit. Meskipun tidak membuatnya jauh lebih baik, kegiatan itu cukup membuatnya tenang.

I blank when I think of you

When suddenly the tears flowing

Whatever I did my heart can’t do anything

Clearing you who I loved

“Haru…”

Mereka memang belum pernah ketemu sejak So Hwi pindah sekolah kala SMP dulu. Namun, ketika pria itu menghubunginya pertama kali, komunikasi mereka berjalan intensif. So Hwi lebih mengenal pria itu hanya melalui pesan yang sering di kirimkan pria itu. Ia lebih tau kebiasaan pria itu. Bahkan—yang tak pernah ia duga—pria itu membagi rahasia hidupnya yang hanya diketahui oleh So Hwi. Bagaimana gadis itu tidak bahagia kala itu? Ternyata, ia bisa menyukai pria itu lagi—walaupun mereka belum pernah bertemu. Hingga sekarang.

Mengenal pria itu membuat So Hwi belajar banyak hal. Dari hal terkecil sampai terbesar. Salah satu moment yang membuat So Hwi rindu.

Ia pernah menangis untuknya. ia berpikir, untuk apa air matanya mengalir kala itu? Apakah pria itu pernah menangis untuknya?

Dan ketika ia mengingat wajah pria itu, perasaannya bergejolak. Ya tuhan, kenapa sesesak ini? Apakah aku benar-benar merindukannya?

Dadanya terasa sesak. Ingin sekali ia berteriak, mengatakan bahwa ia ingin bertemu pria itu. Ingin memastikan apakah pria itu baik-baik saja. Apakah pria itu makan dengan benar. Apakah pria itu juga merindukannya.

“Hah, kenapa merindukan seseorang harus sesakit ini.” Ia merasakan dadanya semakin sesak dilanjutkan dengan keluarnya berbagai hormon emosional, merangsang pengeluaran air mata yang kini telah menumpuk diujung matanya.

If I hit by this rain

Your memories grow inside my heart

I miss us as that time so much today too

Apakah aku sudah melakukan suatu kesalahan padamu?

Apa topik yang kita bicarakan terakhir kali kita berkomunikasi? Apakah topik itu menyinggungmu? Apakah berkomunikasi denganku membuatmu bosan?

Apa yang harus kulakukan agar kau mau menghubungiku lagi?

 

Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu. Setelah sekian lama pria itu tidak menghubunginya, saat ulang tahunnya kemarin pria itu mengiriminya pesan. Ya. Ucapan ulang tahun. Tepat pukul 23.59 sebelum berlalunya hari ulang tahun gadis itu. Ketika So Hwi meminta agar pria itu meneleponnya, pria itu tidak menjawab. Bahkan, ia tidak meread pesan itu. Apakah ia sengaja menghilang? Atau ia sedang menghindar?

Namun, mengingat bahwa pria itu masing ingat hari ulang tahunnya, membuat hati gadis itu kembali dilema. Aku memang tidak bisa tidak merindukanmu. Mau berapa kalinya aku menyangkal perasaan ini, rasa sakit yang nyata ini menyerangku.

Haru, aku memang belum pernah bertemu denganmu. Tapi, suatu hari nanti—dan aku yakin hari itu akan datang—ketika kita bertemu, kumohon jangan menghindar. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Dan, ada yang ingin kukatakan padamu. Semoga, hari indah itu akan datang.

When the memories one by one stop because of tears

I feel like hit by my jumping heart

Because I just miss you today too

 

 

 

 

Friday, January 8th 2016

01.48 AM

Advertisements